A Day in the Life


Sekolah Kristen Lentera Ambarawa- Pelita Harapan International School Jakarta

Dua hari yang penuh kegirangan, belajar sembari bermain dan berwisata. Itulah yang dilakukan para siswa kelas 8 SPH Jakarta dan semua siswa SMP Kristen Lentera Ambarawa. Berbaur dengan rekan yang berbeda latar belakang etnis, budaya, serta bahasa tentunya menjadi pengalaman yang bisa jadi tak terlupakan; ada perasaan canggung, malu, bingung tetapi juga menarik, gembira, dan membuat bersemangat.

Hari Pertama

Pada hari pertama anak-anak Lentera menyambut saudara mereka dari Jakarta dengan berbaris sepanjang pintu gerbang sampai masuk ke GKI Ambarawa. Acara salam-salaman tampak seperti barisan merah dan putih yang panjang. Ucapan “selamat pagi”, “selamat datang di Ambarawa”, “hallo, apa kabar?” terus terucap diiringi senyuman baik dari tuan rumah maupun tamu yang datang. Setelah menemukan kelompok wayangnya masing-masing, mereka dengan tertib memasuki ruang GKi Ambarawa untuk memulai acara.

Dalam opening ceremony, masing-masing kepala sekolah menyampaikan sambutan dan harapan atas acara yang bakal berlangsung; saling menerima, saling mengajar, saling menghargai dan membangun persaudaraan; agar acara ini jadi berkat bagi setiap pribadi.

Usai menyanyikan beberapa pujian secara bersama, acara dilanjutkan dengan belajar bahasa Jawa. Dipandu Pak Darto (guru bahasa Jawa), Bu Janti (guru bahasa Indonesia) dan Bu Tiwik (guru bahasa Inggris) anak-anak SPH belajar kosa kata dan percakapan sesehari dalam bahasa Jawa. Anak-anak Lentera membantu teman-temannya dari UPH yang rata-rata ‘bahasa ibu’-nya adalah bahasa Inggris. Memang tampak di antara mereka selain para gurunya memang orang bule, siswanya pun ada beberapa dari luar negeri baik Korea, Amerika , dll.

Pembelajaran bahasa dan huruf Jawa selesai, gantian anak-anak UPH membantu pelajaran bahasa Inggris kepada anak SKL. Menjadi moment yang serius namun juga menggelikan saat mendengar pelafalan dan mimik mereka yang lucu saat mempelajarinya. Meski asing namun anak-anak tampak antusias.

Hari pertama diisi dengan banyak bermain. Baik anak SPH maupun SKL dibagi dalam kelompok permainan tradisional. Mereka mencoba betengan, gobak sodor, bakiak dan engklek. Memang ramai, namun karena baru pertama kali kadang tampak bingung juga aturan permainannya…seruuuuuuuuu…!!!!

Mereka menutup hari pertama dengan kunjungan ke Panti Asuhan Harapan, di sana mereka membantu mengecat beberapa bagian panti.

Hari Kedua

Anak-anak berkesempatan untuk merasakan dan mengalami secara langsung kehidupan keseharian masyarakat desa di desa wisata Bejalen. Melihat anak-anak metropolitan mengerjakan household chores ; belajar mencuci baju, menyeterika,  memasak nasi, mencuci piring, menampi beras; terasa benar bahwa bagi mereka hal keseharian tersebut menjadi istimewa.

Sementara kelompok lain mencoba menjadi nelayan , mereka menjala ikan dan mengambil ikan-ikan kecil dari jala, serta mencari keong di rawa. Awalnya beberapa anak tampak takut atau jijik namun akhirnya mereka menikmati juga, termasuk ketika berkesempatan naik boat menyusuri Rawa Pening.

Di kelompok in the rice field, mereka mempelajari proses menanam padi dan mempraktekkannya. Dan satu kelompok berbelanja di pasar tradisional dimana belanjaan yang mereka beli dipersembahkan untuk penduduk desa Bejalen yang sudah menerima dan mengajarkan banyak hal kepada anak SPH dan SKL.

Usai menikmati udara dan aktivitas pedesaan, kami semua menikmati makan siang dengan menu soto ayam dan soto daging sapi “Pak Jan”.

Closing ceremony diisi dengan kesan dari peserta dan guru pendamping dua pihak. Semua mengungkapkan diberkati melalui acara ini dan berpisah dengan membawa kenangan yang baik. Ternyata mereka berinisiatif persembahan untuk SKL, salah satu siswa menyerahkan Rp. 1.950.000,- kepada Pak Anggung selaku kepala sekolah SMP Lentera.

Sementara dari pihak SKL menyerahkan foto berpigura yang berisi gambar setiap kelompok wayang yang selama dua hari sudah bersama.

Selamat jalan para guru dan siswa SPH, selamat melayani dan belajar di kota metropolitan. Kami belajar di sebuah desa bernama AMbarawa, kalian berada di ibukota Jakarta. Namun kita sama-sama memiliki pengharapan atas masa depan gemilang di dalam Tuhan. Sampai jumpa di lain kesempatan… Roma 11:36. (LGb./Foto: Jarwo)

Gallery:

 

Why Lentera?

Lentera

Menjadi sekolah terkemuka, unggul dalam iman-karakter dan iptek. Berprestasi, cerdas-mandiri di era global dan berpijak pada budaya bangsa.

Experience

Lentera

Anak-anak didik di Sekolah Kristen Lentera diajarkan untuk berprestasi, cerdas-mandiri di era global dan berpijak pada budaya bangsa.

Student Life

Lentera

SKL menjadi tempat bagi anak-anak didik untuk dapat menyalurkan bakat dan hobby positif-nya, sehingga mereka menjadi generasi yang kreatif.

CORE VALUES LENTERA

akronim lentera